Articles by "SYIAH"
Showing posts with label SYIAH. Show all posts
Syiahindonesia.com - Dalam sebuah tayangan berita internasional, dinyatakan bahwa marja' tertinggi syiah imamiyah Ali Khamenei adalah alumnus salah satu universitas komunis di Rusia.

Adalah  Universitas Peoples’ Friendship (Universitas Komunis Uni Soviet – Russia) didirikan 50 tahun yang lalu dan telah menghasilkan ratusan ilmuwan terkemuka, negarawan yang bekerja di seluruh dunia.

Para mahasiswa, alumni, professor dan doktor serta juga tamu kehormatan, berkumpul di ruangan ini pada hari ini untuk memperingati 50 tahun hari lahirnya Universitas Peoples’ Friendship (Universitas Komunis Uni Soviet – Russia) yang merupakan universitas terbaik di Russia, yakni dengan 30% nya adalah mahasiswa yang berasal dari luar negeri. Adapun apa yang terjadi hari ini adalah terdapatnya konferensi pertukaran pengetahuan layaknya konser meriah dalam rangka merayakan hari ini, dan di sini pula terdapat Vladimir Filippov yang merupakan head universitas yang menyatakan bahwa tujuan dalam memiliki banyak mahasiswa yang berasal dari luar negeri adalah untuk mendidik para elite dunia.

Tatkala seluruh mahasiswa kembali pulang (ke negerinya), mereka harus berkompetisi dengan lulusan-lulusan yang berasal dari universitas Eropa dan Amerika. Universitas kami mempersiapkan anggota-anggota elite dunia, namun bukan hanya elite politik. Mahasiswa-mahasiswa kami memiliki kualifikasi yang tinggi serta spesialis di berbagai lini, mulai dari bisnis dan ilmu pengetahuan hingga kemanusiaan.

Sudah 50 tahun sejak universitas pertama kali membuka pintunya untuk para mahasiswa yang berasal dari luar negeri, yakni pada tahun 1960. Tahun tersebut memanglah sangat signifikan, dikarenakan pada saat itu terdapatnya banyak negera-negara Afrika yang meraih kemerdekaan dari kekuasaan kolonial, dan universitas ini adalah (universitas) pilihan bagi mereka untuk mendapatkan skill dan mempelajari pengalaman yang dimiliki oleh Uni Soviet (Negara Komunis) serta menjalin hubungan yang erat.

Diantara para alumni tersebut terdapat banyak politikus luar negri high level yang terkenal seperti Rahbar Iran Ali Khamenei. (tanyasyiah)
Perjalanan Jihad Abu Ali Umari, seorang mantan pengikut Syiah Alawiyah
Abu Ali Umari rahimahullah. (Foto: Dokumen arrahmah.com)
 
Abu Ali Umari, begitu orang mengenalnya. Ia juga pernah disebut dengan Abu Ali Alawi karena memang dia adalah pengikut Syiah Alawiyah. Waktu masih memeluk Syiah, ia adalah seorang tentara dan berada di divisi tank sebagai seorang pengemudi.
Abu Ali berasal dari provinsi Homs dan kisahnya ini diceritakan oleh Abu Mus’ab Al-Anshory kepada koresponden arrahmah.com di tanah Syam.
Kisah hijrah Abu Ali Umari berawal saat ia tertangkap oleh Mujahidin Jabhah Nushrah yang melancarkan penyerangan ke markas tentara rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad di mana ia ditugaskan. Dalam serangan itu, Abu Ali ditangkap dan ditahan oleh Mujahidin. Dengan dakwah sunnah secara intensif dari pihak rehabilitasi penjara, akhirnya Abu Ali tersadar dan dengan sukarela menyatakan bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang haq
Setelah melihat kelakuan baiknya dan keinginannya yang kuat untuk mendalami Al-Qur’an dan Sunnah selama berada di dalam tahanan Mujahidin, akhirnya ia dibebaskan dan ia memilih bergabung dan berperang di sisi Mujahidin daripada kembali ke keluarganya yang masih menjadi penganut Alawiyah.
Abu Ali Umari dikenal sebagai sosok yang ramah dan suka bercanda, namun perilakunya juga sedikit kasar karena memang latar belakangnya adalah Alawiyah yang sejak revolusi Suriah meletus, orang-orang Alawiyah dikenal sebagai orang yang kejam di barisan pasukan rezim Asad.
Setelah bergabungnya Abu Ali dalam barisan Mujahidin di divisi lapis baja pasca penaklukan kota Idlib, ia memilih duduk sebagai pengemudi tank T-72 buatan Rusia.
Penyerangan bukit Hamra
Satu dari banyak hal yang diingat dari kisah Abu Ali Umari adalah saat ingin melakukan penyerangan di bukit Hamra, pedesaan timur provinsi Hama yang penduduknya mayoritas pemeluk Syiah. Saat itu ia berada dalam satu tank bersama dua orang lainnya yang berposisi sebagai gunner dan observer yang sekaligus penembak senapan mesin doshka dengan kaliber 12,7×108 mm.
Sebelum penyerangan dimulai, Abu Ali melontarkan candaan sambil terus tersenyum kepada rekan-rekannya.
“Hai Abu Mus’ab, kita akan menyerang orang-orang Alawiyin, jika nanti kita sudah sampai di tengah-tengah mereka, saya akan tembak kalian berdua dari dalam (sambil memperagakannya) lalu saya akan turun dari tank dan melambaikan tangan kepada kalian,” ujar Abu Mus’ab Al-Anshory mengikuti ucapan Abu Ali saat itu, kepada koresponden arrahmah.com.
Mereka tertawa bertiga, lalu membalas candaaan Abu Ali.
“Bagaimana jika setelah itu para tentara Syiah akan menangkap dan membunuhmu?”
Abu Ali saat itu menjawab: “Aku akan mengaku kalau aku adalah seorang Alawiy dan aku mengerti kebiasaan dan lahjah (gaya bicara) mereka, mereka tidak akan menangkapku.”
Mendengar jawaban tersebut, ketiganya kembali tertawa lalu terdiam sejenak. Setelah itu Abu Ali dengan ringan mengatakan: “Jangan takut saudaraku, aku mencintai kalian karena Allah, dengan pertolongan Allah kita akan hancurkan mereka semua.”
Lalu ketiganya bertakbir dan berpelukan serta saling mendoakan.
Abu Ali Umari dan timnya. (Foto: Dokumen arrahmah.com)
Abu Ali Umari dan timnya. (Foto: Dokumen arrahmah.com)
Saat itu setelah komandan tertinggi penyerangan mengambil keputusan, tank T-72 yang dikendarai abu Ali tidak menjadi tank yang berada di depan, melainkan tank cadangan yang berada di belakang bersama beberapa kendaraan tempur infanteri BMP.
“Saya pribadi tidak bisa mengungkapkan bagaimana campur aduknya perasaan hati saya saat itu, sedih dll bercampur menjadi satu karena tim kami tidak terpilih menjadi tank penyerang pertama, melainkan hanya sebagai tim cadangan jika ada masalah pada tank lainnya,” ungkap Abu Mus’ab.
Sore itu cuaca seperti mendukung penyerangan oleh Mujahidin, langit sedikit mendukung dan gerimis ringan pun turun membasahi bumi.
Setelah persiapan, tim penyerang pun berangkat dan menempuh jarak sekitar 4 kilometer menuju posisi tentara Syiah dengan medan yang gersang dan sedikit bergurun. Untuk melindungi tim penyerang hingga sampai di posisi paling dekat dengan pasukan rezim Asad, tembakan perlindungan pun dilancarkan dengan berbagai macam senapan mesin berat hingga meriam mulai dari kaliber 37 dan 57 mm, mortar serta tembakan tank T-55 dan T-62 dengan kaliber 100 mm dan 115 mm.
Qadarullah saat itu serangan tidak mengalami keberhasilan dan pasukan ditarik mundur ke titik awal.
Penyerangan di Kafraya dan Fuaa
Kisah lainnya yang dikenang dari Abu Ali Umari adalah saat ia kembali dipilih menjadi pengemudi tank T-72 yang akan menyerang ke posisi Syiah di desa Kafraya dan Fuaa.
Setelah mendapat komando untuk menyerang, Abu Ali langsung tancap gas dan tank-nya pun melaju dengan kencang, saat itu Abu Ali sangat bersemangat untuk memporak-porandakan pertahanan para Syiah hingga ia tidak lagi menunggu-nunggu gunner-nya untuk menembak doshma-doshma (bunker) pertahanan para tentara Syiah.
Baca artikel  selengkapnya di SEJARAH ASYURA tafhadol

Ia menggilas dan menabrak semua doshma yang ada di depannya, hingga banyak dari tentara Syiah yang mati terhimpit di dalam doshma-doshma mereka.
Abu Ali bersama tank-nya terperosok ke sebuah parit yang dalam yang sebelumnya telah di gali oleh para tentara Syiah dan ditutupi sedemikian rupa hingga sulit membedakan nya. Abu ali terus mencoba memaksa tank-nya agar bisa naik dari parit yang dalam tersebut, karena parit itu cukup dalam akhirnya Abu Ali Umari tidak bisa menggerakkan tank-nya.
Ditengah-tengah posisi musuh Abu Ali tidak kehabisan akal, ia timnya keluar meninggalkan tank, berbekal senapan serbu otomatis dan beberapa magazine peluru di rompinya, Abu Ali dan timnya maju menyerang musuh sambil bertakbir.
Sambil menunggu pasukan bantuan datang Abu Ali dan rekan-rekannya terlibat dalam baku tembak yang sengit dengan tentara Syiah, namun itu tidak menyurutkan semangat tempur mereka. Setelah pasukan bantuan datang dan kekuatan baku tembak sedikit berimbang, sebuah peluru mortar dengan kaliber yang tidak terlalu besar, sekitar 60 mm, jatuh sangat dekat dengan Abu Ali Umari, saat itu para pejuang mengira Abu Ali telah syahid, setelah tim medis pasukan mengevakuasinya ke rumah sakit lapangan, ternyata Abu Ali hanya pingsan dan mengalami sedikit luka akibat pecahan peluru mortar.
Alhamdulillah penyerangan kali itu berhasil cukup baik sehingga posisi Mujahidin menjadi sangat dekat dengan pusat kota Kafraya dan Fuaa.
Penyerangan desa Khontuman, Aleppo selatan
Penyerangan kali itu, Abu Ali bersama timnya kembali terpilih sebagai tank penyerang, yang akan menyerang posisi tentara koalisi Syiah internasional yang berusaha maju dari arah desa Khontuman, Aleppo selatan.
Setelah tembakan-tembakan tamhid (cover) dilancarkan dari senjata-senjata berkaliber besar serta meriam-meriam kelas berat buatan mujahidin yang terdiri dari mortar, meriam jahannam dan roket fiil(gajah), Abu Ali dan tank lainnya pun maju menyerang.
Dengan pertolongan Allah, penyerangan kali itu cukup mudah. Meskipun tentara Syiah di bantu oleh serangan udara dari pesawat-pesawat tempur koalisi mereka, namun dengan pertolongan Allah semua itu tidak mampu menghentikan penyerangan Mujahidin. Banyak tentara Syiah Iran yang mati dalam pertempuran itu dan sebagian lainnya lari meninggalkan desa Khontuman.
Mujahidin memperoleh ghanimah yang banyak berupa kendaraan-kendaraan tentara Syiah serta persenjataan yang banyak yang mereka tinggalkan. Setelah memperoleh kemenangan, takbir para mujahidin bergema di seluruh lokasi peperangan, Allahuakbar!
Gugurnya Abu Ali Umari
Dua hari setelah penyerangan di desa Khontuman, panglima tertinggi memutuskan untuk melanjutkan penyerangan terhadap posisi tentara koalisi Syiah internasional yang mundur ke arah selatan kota Aleppo, agar mereka kewalahan dan tidak punya banyak waktu untuk menyusun strategi pertahanan.
Setelah selesai menunaikan sholat Subuh berjama’ah, Abu Ali Umari dan rekan-rekannya saling berpelukan dan saling mendoakan, lalu pergi memacu tank-nya bergerak ke titik paling depan dari posisi ribath Mujahidin yang akan di jadikan titik tolak penyerangan.
Cuaca di pagi hari itu masih sedikit gelap, di tengah perjalanan melewati medan yang sedikit terbuka, dan mungkin juga wilayah tersebut telah di pantau terus menerus oleh para tentara Syiah, tiba-tiba sebuah guided missile anti-tank buatan Rusia meluncur dari arah kota menghantam tank Abu Ali Umari, ledakan api besar terlihat jelas dari kejauhan.
“Berangkat dari disiplin ilmu yang telah di pelajari di divisi lapis baja, ketika sebuah roket anti-tank menghantam, para awak di dalam tank hanya mempunyai waktu kurang dari 10 detik untuk keluar meninggalkan tank sebelum panasnya api dari ledakan membakar peluru-peluru di dalam tank dan meledakkannya,” ungkap Abu Mus’ab.
Abu Ali dan timnya segera bergegas keluar meninggalkan tank, saat itu para awak tank tidak mengalami luka sedikitpun, kecuali Abu Aliyang mengalami sedikit luka ringan, setelah berhasil turun dari tank dengan sedikit sempoyongan Abu Ali dan tim berusaha mencari tempat perlindungan agar aman dari tembakan berikutnya.
Namun, tentara Syiah melanjutkan tembakan dengan menghujani posisi Abu Ali dan timnya dengan berbagai macam tembakan dari mortir, rojamat (termobaric misil) dan senjata lainnya sehingga membakar dan menghanguskan lokasi Abu Ali dan timnya hingga radius ratusan meter.
Qadarullah, dengan begitu banyaknya tembakan ke arah Abu Ali, menjadi sebab Allah memilih Abu Ali Umari sebagai syuhada (In syaa Allah). Pada pagi hari itu dia kembali menghadap Rabbal’alamin.
Setelah tembakan mereda, Mujahidin berupaya mencari Abu Ali Umari. Mereka menemukan jasad Abu Ali tergeletak tidak jauh dari tank.
Mengingat banyaknya tembakan ke arah tim tersebut, tidak mungkin tubuh manusia bisa tetap utuh, pasti akan tercerai-berai. Namun karena kuasa Allah, jasad Abu Ali Umari tetap utuh dan hanya mengalami sedikit luka bakardi beberapa bagian tubuhnya.
Selamat jalan wahai pejuang yang mulia, semoga Allah, menerima amal ibadah jihadmu, dan menempatkanmu di barisan para Syuhada‘ di surga firdaus yang tertinggi. Aamiin. (haninmazaya/arrahmah.com)
- See more at: https://www.arrahmah.com/news/2016/05/24/perjalanan-jihad-abu-ali-umari-seorang-mantan-pengikut-syiah-alawiyah.html#sthash.9qTGReoa.dpuf
ibnu taimiyah dan ahlul bait

Ibnu Taimiyah & Ahlul Bait

Benarkah Ibnu Taimiyah memenci ahlul bait? Sampai menyebut, Sayyidina Ali gagal dan selalu sial, berperang hanya untuk dunia. Apa ini benar?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Berfikirlah seribu kali ketika seseorang memberi komentar miring kepada ulama, karena darah dan kehormatan mereka beracun. Ibnu Asakir menyatakan,
لحوم العلماء مسمومة
“Daging para ulama itu beracun.” (at-Tabyin, hlm. 29)
Allah berfirman,
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. al-Ahzab: 58)
Jika menuduh orang beriman secara dusta, Allah sebut sebagai tindakan dosa, bagaimana jika yang dituduh ulama, orang mukmin yang berjasa bagi mukmin yang lain. Sementara beliau tidak pernah mengatakannya, apalagi mengajarkannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ulama besar yang didzalimi. Terutama orang-orang Syiah, karena dendam mereka kepada beliau.
Diantara yang menunjukkan kehebatan mereka di hadapan ulama lainnya, kita bisa lihat, pujian al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Beliau sampai dengan ungkapan hiperbol,
وشهرة إمامه الشيخ تقي الدين ابن تيمية أشهرُ مِنَ الشَّمس، وتلقيبُه بشيخ الإسلام في عصره باقٍ إلى الآن على الألسنة الزكيَّة، ويستمر غدًا كما كان بالأمس، ولا يُنكِرُ ذلك إلَّا من جهل مقداره، أو تجنَّب الإنصاف
Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, posisi beliau sebagai Imam sudah dikenal, lebih dikenal dari pada matahari. Gelar beliau beliau sebagai Syaikhul Islam di zamannya, masih dikenal hingga sekarang, diucapkan oleh lisan-lisan orang baik. Dan kedepan, gelar ini akan terus bertahan sebagaimana yang kemarin. Dan tidak ada yang mengingkari kemuliaan beliau, kecuali orang yang bodoh dengan kedudukan beliau atau orang yang tidak adil dalam menilai. (al-Jawahir wa ad-Durar, 2/734).

Aqidah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang Ahlul Bait

Pertama, Ali bin Abi Thalib adalah khalifah ar-Rasyid
Ibnu Taimiyah menjelaskan,
والصحيح الذي عليه الأئمة أن علياً رضي الله عنه من الخلفاء الراشدين بهذا الحديث – يقصد حديث سفينة – ، فزمان علي كان يسمي نفسه أمير المؤمنين والصحابة تسميه بذلك
Yang benar, yang menjadi aqidah para ulama bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu termasuk kulafaur rasyidin, berdasarkan hadis dari Safinah. Di zaman Ali, beliau menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin dan para sahabat juga mengakui beliau sebagai amirul mukminin.

Baca artikel  selengkapnya di SEJARAH ASYURA tafhadol
Lalu Syaikhul Islam menyebutkan keterangan Imam Ahmad,
، قال الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله : و من لم يربع بعلي رضي الله عنه في الخلافة فهو أضل من حمار أهله
Imam Ahmad mengatakan, “Siapa yang tidak mengurutkan Ali sebagai khalifah yang keempat, maka dia lebih bodoh dari pada khimar di rumahnya.” (Majmu’ Fatawa, 4/479)
Kedua, pembelaan Ibnu Taimiyah kepada sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu,
Ibnu Taimiyah mengatakan,
وكذلك علي رضي الله عنه، لم يتخاصم طائفتان في أن غيره أحق بالإمامة منه ، وإن كان بعض الناس كارهاً لولاية أحد من الأربعة فهذا لابد منه فإن من الناس من كان كارهاً لنبوة محمد صلى الله عليه وسلم ، فكيف لا يكون فيهم من يكره إمامة بعض الخلفاء
Demikian pula Ali radhiyallahu ‘anhu, tidak ada orang yang berbeda pendapat bahwa ada selain Ali (yang hidup di zaman Ali) yang lebih berhak untuk menjadi khalifah dari pada Ali. Meskipun sebagian orang membenci kekhalifahan salah satu dari empat khulafa’ ar-Rasyidun. Dan itu wajar terjadi. Karena ada juga manusia yang tidak suka dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga bagaimana mungkin mengingkari keberadaan orang yang tidak suka dengan salah satu khulafa’ rasyidin. (Minhaj as-Sunah, 6/329)
Ketiga, Ali, sahabat paling mulia  setelah 3 khulafa rasyidin sebelumnya.
Ibnu Taimiyah menegaskann,
وليس في الصحابة بعدهم ( الخلفاء الثلاثة ) من هو أفضل من علي ، ولا تُنازع طائفة من المسلمين بعد خلافة عثمان في أنه ليس في جيش علي أفضل منه
Di tengah sahabat setelah tiga khalifah, tidak ada yang lebih afdhal dari pada Ali. Dan tidak ada kelompok kaum muslimin setelah kepemimpinan Utsman yang menolak bahwa di tengah pasukan Ali, tidak ada yang lebh afdhal dari pada Ali. (Minhaj as-Sunah, 6/330)
Keempat, Semua lawan Ali adalah muslim dan Ali lebih benar
Ibnu Taimiyah mengatakan,
ثبت بالكتاب و السنة إجماع السلف على أنهم – علي وخالفوه – مؤمنون مسلمون وأن علي بن أبي طالب والذين معه كانوا أولى بالحق من الطائفة المقاتلة له
Dalil Al-Quran, sunah dan ijma’ salaf, bahwa mereka (Ali dan orang yang tidak setuju dengan Ali), semuanya mukmin – muslim. Hanya saja, Ali dan pasukan yang membelanya, lebih mendekati kebenaran dibandingkan mereka yang melawan Ali. (Majmu’ al-Fatawa, 4/433)
Allahu a’lam, dari mana tuduhan dusta itu berasal?. Sementara aqidah Syaikhul Islam tentang Ali sama seperti aqidah yang dimiliki oleh semua ulama ahlus sunah. Kecuali jika orang yang menuduh ini ingin menanamkan kebencian umat islam kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Semoga Allah menyelamatkan kita dari bahaya tuduhan dusta dan kesestan yang dihembuskan musuh islam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
said aqil siradj

Terima Kasih Pak Said Aqil Siraj

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Ketika dakwah di Mekah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijatuhkan karakternnya, agar masyarakat yang belum kenal, menjauh dari beliau. Beliau disebut tukang sihir, penyair, orang gila, dan seabreg gelar lainnya.
Tersebutlah seorang ahli ruqyah zaman Jahiliyah, Dhimad al-Azdi. Berasal dari suku Azd Syanu’ah di Yaman. Dia biasa meruqyah orang gila atau kesurupan.
Ketika tiba di Mekah, dia mendengar orang-orang Mekah mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad itu majnun (gila).”

Baca artikel  selengkapnya di SEJARAH ASYURA tafhadol
Dhimad bergumam,
لو إني أتيت هذا الرجل لعل الله يشفيه على يدى
“Bagaimana kalau aku datangi orang ini. semoga Allah menyembuhkannya melalui tanganku.”
Setelah ketemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menawarkan,
يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، وَإِنَّ اللهَ يَشْفِي عَلَى يَدِي مَنْ شَاءَ، فَهَلْ لَكَ؟
“Hai Muhammad, saya biasa mengobati sakit jiwa. Dan Allah menyembuhkan siapa saja yang Dia kehendaki melalui tanganku. Apa kamu bersedia?”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapinya dengan mengatakan,
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ
Mendengar kalimat ini pertama kalinya, Dhimad keheranan.
“Tolong ulangi semua ucapanmu tadi!” pinta Dhimad.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya 3 kali.
Komentar Dhimad,
لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وَقَوْلَ السَّحَرَةِ، وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ، فَمَا سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، وَلَقَدْ بَلَغْنَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ، هات يدك أبايعك على الإسلام
“Sungguh aku telah mendengar ucapan dukun, ucapan tukang sihir, dan penyair, dan saya belum pernah mendengar seperti ucapanmu tadi. Sungguh untaian kalimatmu mencapai kedalaman lautan. Berikan tanganmu, kubaiat kamu bahwa aku masuk islam.” (HR. Muslim no. 868).
Kejadian yang sama juga dialami seorang penyair cerdas dari Yaman, Thufail bin Amr ad-Dausi.
Beliau salah satu pemuka kaum, dimuliakan masyarakat arab, dikenal sangat cerdas berbahasa, dan pemimpin kabilah Daus.
Ketika beliau datang ke Mekah tahun 11 pasca-kenabian, beliau disambut banyak peringatan dari orang musyrikin Mekah agar jangan dekat-dekat Muhammad.
“Wahai Thufail, kamu datang di negeri, hati-hati dengan orang yang satu ini. Dia mengacaukan kami, memecah belah persatuan kami, merusak semua urusan kami. Ucapannya seperti sihir, bisa memisahkan anak dengan orang tuanya, dengan saudaranya, suami bisa pisah dari istrinya. Kami khawatir, kamu dan kaummu bisa mengalami seperti yang kami alami. Karena itu, jangan bicara dengan orang itu dan jangan dengarkan apapun darinya.”
Nasehat orang musyrikin kepada Thufail
“Mereka terus memberi masukan itu kepadaku, hingga aku bertekad, tidak akan mendengarkan apapun dari nabi ini dan mengajak bicara apapun dengannya. Hingga aku menyumbat telingaku dengan kapas ketika datang ke Masjidil haram. Karena takut, jangan sampai terdengar sesuatu yang dia ucapkan.”
Suatu hari, berangkatlah Thufail menuju masjidil haram. Kala itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat di dekat Ka’bah. Allah membuat Thufail bisa mendengar sepotong ayat yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Kalimat yang indah.”
والله إني رجل لبيب شاعر، ما يخفى علي الحسن من القبيح، فما يمنعني أن أسمع من هذا الرجل ما يقول؛ فإن كان حسنا قبلته، وإن كان قبيحا تركته
“Sungguh saya ini penyair cerdas, saya bisa memahami mana ucapan yang baik, mana yang jelek. Mengapa saya harus enggan untuk mendengarkan ucapan orang ini. Jika itu baik, saya menerimanya dan jika itu jelek, akan kutinggalkan.”
Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang. Thufailpun menyusulnya. Di situlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mendakwahi Thufail, membacakan al-Quran untuknya, hingga dia masuk islam, mengucapkan kalimat syahadat.  (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 121)

Rasa Ingin Tahu

Setiap manusia diilhami sifat curiosity, perasaan selalu ingin tahu dan ingin tahu… terutama ketika ada hal menarik yang mengundang perhatian. Ketika dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin dipojokkan para tetangga beliau, justru ini mengundang rasa ingin masyarakat dari luar, untuk mengenal siapa sosok dan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Justru pertemuan mereka, menjadi jalan hidayah baginya untuk mencintai islam dan memeluk islam…

Sunah Terasingkan

Sesuatu disebut terasingkan, ketika banyak masyarakat tidak lagi mengenalnya, tidak lagi mempedulikannya. Ketika ajaran ini masih dibahas, berarti sunah itu masih dihidupkan di tengah mereka.
Jenggot, celana di atas mata kaki, jilbab besar, dan cadar, semua ulama sepakat, itu islam.
Kecuali satu, islam nusantara. Karena dia lahir di tanah jawa. Bukan islam yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena itu, pejuang islam nusantara berusaha menggeser keberadaan islam murni yang sudah lama dianut hampir semua masyarakat muslim di Indonesia. Usaha ini diwujudkan, sekalipun harus dengan bahasa vulgar menc*ci-m*ki muslim murni.
  • Cikal bakal teroris itu rajin shalat malam, puasa dan hafal Qur’an
  • Jenggot bikin goblok
  • Jilbab dan cadar budaya arab
  • Celana cingkrang ciri muslim radikal
  • Gak bener shaf renggang diisi setan
  • Syi’ah di Indonesia tidak berbahaya
  • Wahhabi, Anta Aduwullah – kalian musuh Allah…
Namun kita layak bersyukur, usaha ini justru membuat ajaran sunah kembali banyak dibicarakan masyarakat. Hasilnya, bukan mengurangi populasi mereka yang mengikuti sunah, sebaliknya, mereka yang awam akan agama, semakin sadar akan sunah dan mendekat ke sunah.

Terima kasih Pak Said Aqil

Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat jadi memperbincangkan sunah. Sebelumnya mereka hanya menghabiskan tema obrolannya untuk masalah bisnis dan politis, kini mereka beralih ke masalah agama…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat menjadi semakin dekat dengan sunah. Sebelumnya ini hal asing bagi mereka, sekarang mereka mulai mendekat untuk mengenalnya…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, populasi mereka yang mengikuti ajaran sunah, memelihara jenggot, meninggikan pakaian, memakai cadar, semakin hari semakin bertambah… sejalan dengan besarnya rasa ingin tahu mereka dengan celaan yang anda sampaikan.
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat semakin sadar siapa yang lebih intoleran?, anda ataukan komunitas pecinta sunah yang anda sebut ‘wahhabi’.
Terima kasih Pak Said Aqil, karena ceramah anda pula, masyarakat semakin mengenal, akhlak dan budi pekerti sosok yang anda selalu sebut muslim radikal…
Terima kasih Pak Said Aqil, melalui ceramah anda pula, masyarakat semakin bisa menikmati ceramah para dai yang anda sebut wahhabi. Ceramah mereka lebih santun dari pada ceramah anda yang penuh dengan c*ci m*ki.
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat semakin tahu, siapa yang ceramahnya mengajarkan kedamaian dan siapa yang mengajarkan kebencian…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat semakin tahu, siapakah sosok islam nusantara yang mengaku paling menjaga kearifan lokal…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda pula, masyarakat jadi semakin tahu, ternyata anda sedang berbulan madu dengan syiah…
Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih.
Kami menunggu ceramah anda selajutnya,
Semakin vulgar dan k*sar, semakin menyemarakkan dakwah sunah di tanah air tercinta…
Was salamu ‘ala manit taba’al hudaa…
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk…
Ammi Nur Baits
Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!
KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
no image

Syiah Mengulang Sejarah – Satu tahun terakhir ini, dunia Arab dihebohkan dengan berita-berita penggulingan penguasa-penguasa di beberapa negaranya; Tunisia, Mesir, Yaman, Libia, Bahrain, dan Suriah, sebagian besar berhasil dijatuhkan. Alasannya adalah karena pemimpin-pemimpin itu gagal mensejahterakan rakyatnya, mereka sibuk memperkaya diri mereka, dan menikmati kekuasaan sepanjang hidup mereka. Menanggapi hal ini, banyak suara yang pro dan kontra menyikapi pengulingan penguasa-penguasa absolute ini, dengan alasan demokratisasi Arab, kebebasan, hak asasi, bahkan atas nama agama.

Baca artikel  selengkapnya di SEJARAH ASYURA tafhadol
Banyak orang-orang yang dianggap tokoh agama memprovokasi masa agar terbakar semangat mereka dan menjanjikan adanya pahala atas apa yang mereka lakukan, apabila berhasil menjatuhkan penguasa-penguasa tersebut. Demikian pula banyak tokoh sekuler mengampanyekan kebebasan dan anti absolutisme. Namun pada kesempatan kali ini kita tidak membicarakan permasalahan politik, kita kerucutkan pembicaraan ini kepada suatu kelompok yang memanfaatkan peluang di balik huru-hara ini untuk menancapkan kuku-kuku beracun mereka yang di kawasan Timur Tengah. Sebuah kelompok yang dicitrakan sebagai pahlawan, namun mereka sebenarnya musuh dalam selimut yang siap menerkam, kelompok tersebut adalah kelompok Syiah.

Sejarah Pengkhianatan Syiah

Syiah bukanlah kelompok kemarin sore yang hadir di lingkungan umat Islam, kelompok ini memiliki sejarah yang panjang. Cikal bakal pemikiran ini muncul di akhir pemerintahan Khalifah al-Rasyid, Utsman bin Affan. Pada waktu itu seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’ memprovokasi masa untuk memberontak kepada Utsman bin Affan sehingga menyebabkan terbunuhnya Utsman. Kemudian pada zaman Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Saba mengajak memuja-muja Ali dan mengatakan bahwa Ali-lah yang semestinya menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambukan Abu Bakar. Abdullah bin Saba’-lah orang yang mencetuskan ajaran Syiah dan berhasil memunculkan perpecahan di barisan kaum muslimin.
Berbalik dengan keadaan saat ini, orang-orang mengatakan bahwa mengatakan Syiah sesat adalah pemecah belah Islam dan antek-antek Yahudi. Hendaknya mereka membaca sejarah yang ditulis oleh ulama-ulama Islam yang amanah bukan malah menjauhkan diri dan sibuk dengan tulisan-tulisan orientalis yang khianat dengan mengatasnamakan bijaksana dan kedewasaan. Berikut ini akan kami cuplikkan rekam jejak kelompok Syiah di saat mereka hadir di tengah-tengah kaum muslimin.
Pada masa kekhalifahan Abasiyah tercatatlah sebuah masa yang kelam dalam sejarah Islam, yaitu masuknya tentara Tatar ke Kota Baghdad yang mengakibatkan jatuhnya Baghdad ke tangan Tatar. Jumlah korban yang tewas tatkala itu benar-benar luar biasa besarnya. Ibnu Katsir menyatakan, “Orang-orang berbeda pendapat mengenai jumlah kaum muslimin yang tewas di Baghdad dalam peristiwa ini. Ada yang mengatakan 800.000 jiwa, ada yang mengatakan 1 juta 8ratus ribu jiwa, dan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai dua jutaan jiwa. Korban-korban tewas yang berada di jalanan layaknya gundukan tanah yang bertumpuk-tumpuk. Ketika hujan turun, mayat-mayat mereka segera berubah dan bangkai-bangkai mereka mengeluarkan bau busuk ke seluruh penjuru kota. Udara menjadi tercemar dan menjadi wabah penyakit yang luar biasa dimana-mana, sehingga menyebar dan berterbangan di udara sampai ke negeri Syam. Banyak orang meninggal akibat perubahan cuaca dan tercemarnya udara. Semua orang menderita akibat kenaikan harga, wabah penyakit, kematian, pembunuhan, dan penyakit tha’un. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.” (Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, 13:203).
Mengapa sampai sebanyak itu korban yang tewas oleh kekejaman orang-orang Tatar? Mengapa dengan mudahnya mereka menembus Kota Baghdad tanpa perlawanan yang berarti? Padahal Baghdad adalah pusat pemerintahan. Apakah Dinasti Abasiyah begitu lemahnya sehingga tidak mampu berbuat apa-apa?
Jawabnya adalah Hulagu Khan memiliki seorang kaki tangan di Baghdad yang menempati posisi sangat strategis di pemerintahan Abasiyah, seorang menteri yang bernama Muayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad al Qami, menteri dari Khalifah Abasiyah, Mu’tashim Billah.
Mu’tashim Billah melakukan kekeliruan besar tatkala dia mengangkat seorang Syiah, Ibnu al Qami dalam jajaran pemerintahannya. Ia menjadikan Ibnu al Qami layaknya seorang perdana menteri. Dia bukanlah menteri yang dapat dipercaya, dan kinerjanya pun tidaklah dapat diharapkan. Dialah yang melapangkan jalan pasukan Tatar memasuki Baghdad sehingga menwaskan manusia dalam jumlah yang sangat besar.
Dengan jabatannya yang strategis, Al Qami memulai langkahnya dengan melemahkan militer Abasiyah. Ia memotong gaji para tentara, mengurangi tunjangan untuk berjihad, jumlah tentara pun ia susutkan, akibatnya lemahlah pertahanan Abasiyah. (Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, 13:235)
Langkah berikutnya ia mulai berkorespondensi dengan Tatar, memotivasi mereka untuk mengadakan ekspansi, ia menceritakan hal-hal yang terjadi di Abasiyah, dan membuka rahasia kelemahan militer kekhalifahan. (Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, 13:235). Ia juga mempengaruhi khalifah agar terus menunda memerangi pasukan Tatar. Setelah itu terjadilah apa yang terjadi, terbunuh banyak korban jiwa, sampai-sampai di antara mereka berandai-andai tidak dilahirkan pada waktu itu karena tak tahan melihat banyaknya korban yang terbunuh.
Bagaimana pula kisah Abu Thahir al Qaramithi, seorang Syiah yang menyerang dan membunuh  jamaah haji di Ka’bah, Mekah, pada hari tarwiyah tahun 317 H. Ia mengubur sumur zam-zam, mengoyak-ngoyak kiswah, dan mencabut hajar aswad lalu mengatakan, “Dimanakah burung-burung yang banyak itu (ababil)?” kemudian hajar aswad dibawa ke negaranya (Yaman) sampai tahun 339 H. (Al Bidayah wa an Nihayah, 11:160-161 dan Al Kamil fi Tarikh, 7:53-54).
Demikian juga percobaan pembunuhan seorang pahlawan Islam Shalahudin al Ayyubi atau Saladin. Orang-orang Syiah tentunya tidak akan lupa bagaimana Shalahudin melenyapkan daulah Syiah, Daulah Fathimiyah. Beberapa kali penyerangan dan percobaan pembunuhan dilakukan oleh orang Syiah untuk membalaskan dendam mereka dan kembali merebut kekuasaan. Terlalu panjang apabila kami uraikan satu per satu makar-makar yang dibuat Syiah sepanjang sejarah Islam. Bagi yang menginginkan pembahasan secara mendalam silahkan baca buku-buku sejarah klasik seperti Al Bidayah wa An Nihayah dan As Suluk li Ma’rifati Dual al Muluk.
Sejarah Berulang
Pada era modern ini, makar Syiah pun tak kalah hebat dari apa yang telah nenek moyang mereka lakukan terhadap umat Islam. Mereka tetap menumpahkan darah dan membuat keonaran. Perhatikanlah negara-negara yang memiliki komunitas Syiah yang cukup potensial, pasti terjadi konflik sektarian, terjadi pembunuhan, perampasan, dan penodaan kehormatan. Di antaranya:
Libanon
Kita tentu masih ingat, bagaimana Hizbullah yang berideologi Syiah ini dianggap pahlawan, pejuang pemberani, dan pembela umat Islam dari makar Yahudi. Peperangan antara Hizbullah dan Yahudi yang menduduki tanah Palestina, di antaranya terjadi pada bulan juli 2006. Perang ini dilatarbelakangi oleh aksi heroik gerilyawan Hizbullah yang berani menculik 2 tentara Yahudi demi sebuah tujuan “mulia”, yakni mengadakan bargaining dengan Yahudi untuk menukar tahanan. Sebuah aksi kepahlawanan bukan? Ternyata Yahudi merespon tindakan Hizbullah itu dengan mengamuk menyerang pemukiman sipil di Libanon. Selama 34 hari mereka mengebomi perkampungan sipil masyarakat Ahlussunnah di Libanon. Lalu pertanyaan muncul, Hizbullah yang Syiah melawan Yahudi, tapi mengapa korban 1000 lebih dari masyarakat sipil Ahlussunnah atau non Syiah yang malah dominan?
Bahrain 
Krisis yang terjadi di Timur Tengah yang dimulai dengan keberhasilan demonstrasi anti pemerintah menggulingkan Zainal Abidin Ben Ali di Tunisia menginspirasi warga negara Arab lainnya. Pemerintahan Ben Ali yang sangat lama memerintah dianggap gagal memenuhi harapan rakyat serta menyebabkan rakyat hidup dalam kemiskinan. Kemudian hal serupa terjadi di Mesir, akhirnya Husni Mubarak lengser dari singgasana.
Pergolakan itu pun muncul di Bahrain yang mayoritas penduduknya berideologi Syiah (70%), namun dipimpin oleh Ahlussunnah yang minoritas (30%). Pergolakan ini sangat kentara keinginan Syiah untuk merebut tampuk kekuasaan. Pemerintah yang bermahdzab Ahlussunnah di Bahrain terhitung cukup berhasil menyejahterakan rakyatnya. Bahrain termasuk negara yang perkembangan ekonominya terpesat di dunia, pendapat perkapita USD33.850 atau 15 kali lipatnya Indonesia. Bahrain juga tidak mengekakng rakyatnya dan dikatakan salah satu negara terbebas di kawasan Teluk. Di bidang olahraga, negara ini juga berhasil mengadakan event olahraga bertaraf internasional. Ini menunjukkan potensi ekonomi yang dimiliki oleh Bahrain sangat besar. Dengan demikian pergolakan untuk menggulingkan pemerintah di Bahrain sama sekali tidak berdasar kecuali keinginan Syiah untuk berkuasa di wilayah tersebut. Bagi mereka kekuasaan di Bahrain dengan segala kekayaan yang dimilikinya akan memudahkan mereka menyebarkan ideologi Syiah di tanah Arab bahkan dunia dan mewujudkan cita-cita pada saat revolusi Iran.
Yaman
Makar Syiah terhadap Ahlussunnah pun terjadi di Yaman. Gerilyawan Houthi yang berideologi Syiah Itsna Asyariyah seperti Iran, memanfaatkan situasi pemerintahan yang lemah karena perlawanan masa. Mereka memerangi Ahlussunnah di wilayah So’dah di kota Damaj dengan alasan hendak menjadikan wilayah tersebut 100% dihuni oleh orang-orang Syiah, bukan karena alasan orang-orang Ahlussunnah mengancam keberadaan mereka. Mereka mengadakan pemboikotan, memutuskan akses pemukim So’dah dengan wilayah lainnya, dan dengan bantuan Iran mereka memerangi penduduk So’dah. Mereka membunuhi minoritas Ahlussunnah, baik anak-anak, perempuan, maupun orang tua, mereka tidak pandang bulu.
Suriah 
Kekejaman Syiah di Suriah sudah kami singgung di tulisan kami sebelumnyahttps://konsultasisyariah.com/berita-suriah.
Kesimpulannya, kehadiran Syiah di tengah-tengah kaum muslimin selalu menimbulkan efek negative; perpecahan antar umat Islam, rusaknya stabilitas keamanan, pembunuhan, dll. Ketika lemah mereka mengampanyekan persatuan dan toleransi, ketika kuat mereka mengintimidasi. Apabila mereka menyerukan persatuan di negeri yang mayoritas Ahlussunnah semestinya mereka dulu yang memulai hal itu di negeri-negeri yang mayoritas Syiah.
Ditulis oleh Nurfitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Sunni dan Syiah – Adzan dan shalat merupakan dua ibadah yang agung. Shalat merupakan rukun Islam yang kedua. Shalat merupakan pembeda antara keimanan dan kekafiran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia kafir.“(HR Muslim no. 978). Beliau juga menjelaskan parameter baiknya amalan seseorang itu dengan shalat,

Baca artikel  selengkapnya di SEJARAH ASYURA tafhadol

“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya dan jika buruk maka buruklah seluruh amalannya.” (HR. Thabraani)
Oleh karena itu, menunaikan shalat secara baik dan berkualitas harus menjadi perhatian bagi kaum muslimin. Baik dan berkualitas di sini maksudnya adalah sejauh mana shalat tersebut menyontoh tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; baik kekhusyuannya, gerak-geriknya, bacaannya, waktunya, dsb.
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no.628, 7246 dan Muslim no.1533)
Demikian juga dengan adzan, adzan juga merupakan syiar Islam yang agung, tidak sedikit orang-orang kafir yang tertarik dan bergetar hatinya ketika mendengar seruan adzan kemudian memeluk Islam. Rangkaian kalimat adzan bukanlah sesuatu yang tidak memiliki makna, ia merupakan cerminan akidah seseorang, yang ia yakini dan pegang teguh.
Setelah mengetahui kedudukan adzan dan shalat dalam Islam, pada kesempatan kali ini kami akan menunjukkan tata cara shalat orang-orang Syiah. Dengan mengetahui kalimat adzan dan tata cara shalat mereka, kita akan melihat gambaran akidah mereka.

Adzan Syiah

http://youtu.be/sc-TCzZk70c
Setelah mengucapkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, adzan tersebut diikuti denganAsyhadu anna ‘Aliyan Waliyullah
Aku bersaksi bahwasanya Ali adalah wali Allah
Kemudian dilanjutkan Asyhadu anna Aliyan Amirol Mukminina wa Awladahu Al Ma’shumina Hujajullah
Aku bersaksi bahwa Ali pemimpin orang-orang beriman dan anak-anaknya yang makshum (para imam Syiah pen.) adalah hujah-hujah Allah.
Inilah gambaran tentang keyakinan Syiah yang sangat jauh berbeda dengan Ahlussunnah. Ahlussunnah mengagungkan Ali bin Abi Thalib, beliau memiliki banyak keutamaan yakni sebagai; sahabat nabi, ahlul baitnya, orang yang pertama-tama masuk Islam, dll. Namun Ahlussunnah tidak mengatakan beliau dan keturunannya makshum, terjaga dari kesalahan dan dosa. Orang-orang Syiah menjadikan persaksian ini sebagai ushul (pokok) agama.
Kemudian pula ada tambahan Hayya ‘ala Khoiril ‘amal, artinya marilah berbuat sebaik-baik amal perbuatan. Khoiril ‘amal di sini bukanlah sebagai penguat untuk mengajak orang-orang shalat, di antara orang-orang Syiah menjelaskan bahwa sebaik-baik amalan adalah menaati Fathimah dan keturunannya yang suci.

Tata Cara Shalat Syiah

Berikut ini tata cara shalat Syiah:
Shalat berjamaah:
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)
Nabi juga mengajarkan agar membaca Al Fatihah dalam setiap rakaat,
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan menjadikan imam untuk diikuti
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ
Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Mudah-mudahan pemaparan yang singkat ini dapat memberikan kita pengetahuan bahwasanya perselisihan antara Ahlussunnah dan Syiah bukanlah permasalahan furu’iyahatau permasalahan fiqh, akan tetapi permasalahan tersebut adalah permasalahan akidah. Kita semua menginginkan persatuan tetapi bersatu bukanlah saling menoleransi kesalahan dan kemaksiatan, bersatu itu saling menasihati dan memperbaiki dari kesalahan.
Disusun oleh Nurfitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
Back To Top